Sabtu, 17 Agustus 2013

Pemuda di Era Kemerdekaan

Pemuda dari Masa ke Masa
1. Meneropong Pemuda Masa Lalu
Boedi Oetomo sebagai organisasi yang lahir pada tahun 1908 mengawali kebangkitan Bangsa Indonesia (Kebangkitan Nasional). Mereka hadir
sebagai pemuda-pemudi yang siap berada digarda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Delapan puluh tiga tahun silam, pemuda-pemudi Indonesia, putra-putri terbaik bangsa saat itu telah menghasilkan tiga sumpah (janji) penting yang sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia kearah yang lebih baik yaitu meraih kemerdekaan. Sumpah tersebut dihasilkan dalam peristiwa Kongres Pemuda ke-2, di Jakarta, tepatnya di Jalan Kramat Raya no.106, yang sekarang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928. Adapun bunyi Sumpah Pemuda tersebut adalah sebagai berikut:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia
Ketiga butir sumpah tersebut merupakan hasil kesepakatan dan keputusan Kongres Pemuda ke-2, yang masih dalam suasana kolonialisme Hindia Belanda. Namun dengan tekad dan semangat tinggi, mereka berkumpul dan bersatu dalam rangka perubahan nasib bangsa Indonesia, sekalipun mereka berasal dari berbagai pelosok wilayah Indonesia yang satu sama lainnya terpisah dengan jarak yang sangat jauh, lebih lagi dengan sulitnya transportasi kala itu
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para pemuda tidak lagi berjuang sendiri, melainkan bersama-sama. Perlu kita ketahui, Sumpah Pemuda tidak lahir begitu saja. Banyak hal yang melandasi para pemuda bertekad untuk bersatu. Mereka berpikir tidak akan bisa membuat Indonesia merdeka jika berjuang di kelompok sendiri.
Kegagalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia membuat mereka sadar bahwa rasa nasionalisme harus dipadukan. Karena itu, diadakanlah Kongres Pemuda I dan II. Mereka menjadi satu, menjadi “Pemuda Indonesia”. Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti pemuda masa kini. Yaitu, dengan mengisi kemerdekaan. Istilah pemuda atau generasi muda umumnya dipakai sebagai konsep untuk memberi generalisasi golongan masyarakat yang berada pada usia paling dinamis, yang membedakan dari kelompok umur anak-anak dan golongan tua. Sementara secara kultural, pemuda adalah produk sistem nilai yang mengalami proses pembentukan kesadaran dan pematangan identitas dirinya sebagai aktor penting perubahan.
Sejarah kemerdekaan Indonesia telah membuktikannya, perjuangan pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan adalah berkat perjuangan kaum muda pada saat itu. Kilas balik sejarah, penulis sedikit mengutip percakapan antara Soekarno-Hatta dan pemuda Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada masa itu yang juga menimbulkan pro dan kontra antara organisasai pemuda yang diketuai oleh Chaerul Saleh dan kelompok tua diketuai oleh Bung Karno. Tanggal 15 Agustus 1945 dengan kepala panas kelompok muda menentang Soekarno dan mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan indoesia, namun kelompok tua menolak karena beranggapan bahwa jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Negara Indonesia, ”Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata pemuda Chaerul Saleh demi meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ”Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan;  ”Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”
Soekarno langsung ikut naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: ”Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu ?”
Namun, para pemuda terus mendesak, ”Apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. ” Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memproklamasikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?”.
Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata, “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya ? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “.
Bila menghayati lebih dalam kutipan percakapan di atas, harus diakui bahwa salah satu pionir yang paling berperan dalam tatanan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara adalah pemuda. Pemuda merupakan sekelompok orang yang masih terbilang muda serta memiliki potensi yang beragam. Keberadaannya, tentunya sangat diharapkan lahirnya potensi-potensi yang berguna bagi bangsa dan negara. Generasi yang bisa dikatakan sebagai kelompok yang paling memiliki semangat tinggi, semangat menyala-nyala yang terkadang meluap-luap.
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1966 memang berhasil digagalkan angkatan bersenjata, namun tanpa peran pemuda dan ormas lainnya keberhasilan ini tentu tidak akan berjalan lancar. Tahun inilah awal berdirinya pemerintahan orde baru dibawah kekuasaan Soeharto. Pemerintahan Soeharto memang menunjukkan perkembangan bagi bangsa Indonesia. Kemakmuran rakyat meningkat, kesejahteraan mulai tampak. Namun kekuasan Soeharto ternyata lebih mengedepankan asas kekeluargaan, pemerintahan orde baru-pun disebut-sebut sebagai pemerintahan rapuh dan kropos akhirnya jatuh disaat krisis moneter melanda Indonesia.
Pemuda kembali unjuk gigi, 32 tahun rezim orde baru berkuasa berhasil diakhiri. Bersatunya pemuda dan mahasiswa meminta Soeharto mundur terwujud, dan masa otoriter berakhir kemudian beralih ke masa reformasi. Tahun 1998, awal mula berjalannya era reformasi. Era ini dianggap sebagai zaman kebebasan bagi rakyat.
2. Pemuda Indonesia Hari Ini
Betapa pentingnya peran pemuda dalam bagi suatu bangsa. Sebab itulah, pemuda pada dasarnya harus ada dan mutlak adanya. Sebab pemuda sebenarnya merupakan sosok yang paling memiliki power untuk mengarungi sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara ke depan. Pemuda jualah yang menjadi harapan untuk mengkritik setiap-setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan memberikan solusi yang cerdas untuk mengatasi permasalahan. Pemuda dapat dikatakan sebagai generasi pelanjut dan pelurus.
Namun ini, dimana semangat para pemuda itu? Para pemuda sekarang mayoritas hanya diam, peduli pada nasib masing-masing. Jiwa nasionalis dan sosial seakan memudar. Kalaupun ada yang peduli pada nasib bangsa ini, jumlahnya tidak lebih besar dari yang apatis.
Rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga dengan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda. Jangan sampai kerja keras para pemuda pada masa perjuangan dahulu terbuang percuma dengan kondisi Bangsa Indonesia di masa sekarang. Sumpah Pemuda yang disebut-sebut menjadi adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Seperti kita telah ketahui, ada tiga butir penting Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi negara kita. Bagaimana semangat pemuda dulu? Bagaimana pula kenyataan pemuda pada masa kini?
Tetapi kini, terkadang kita dibuat sedih dengan kenyataan para pemuda Indonesia saat ini. Semangat mengisi kemerdekaan mereka sangat kecil, bahkan kadang malah merusak. Hanya karena sedikit salah paham, para pemuda sekarang bisa tawuran. Tawuran antar pemuda tidak mengenal lokasi dan tingkat kedewasaan. Pemuda desa yang satu rusuh dengan pemuda kampung yang lain. Ada juga tawuran antar sekolah dan antar universitas. Bahkan siswa Sekolah Dasar (SD) mulai menirukan para kakak-kakak mereka tersebut. Mereka menghancurkan semangat Sumpah Pemuda.
Masalah beberapa pemuda masa kini, bukan hanya emosi yang tak terkendali. Mereka juga bermental egois dan asyik dengan diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan. Mereka menjerumuskan diri ke dalam narkoba, hura-hura, pesta-pora, hingga seks bebas.
Penulis menyimpulkan, pemuda saat ini terlalu terlena dengan kemudahan-kemudahan yang ada. Untungnya, tidak semua pemuda zaman sekarang seperti mereka, yang menghancurkan diri dan bangsanya. Masih banyak generasi penerus bangsa yang masih peduli dengan lingkungan dan menjunjung tinggi semangat Sumpah Pemuda. Ada beberapa indikasi sebagai penyebab masalah dikalangan pemuda hari ini:
Masih relatif rendahnya tingkat pendidikan pemuda;
Masih relatif tingginya tingkat pengangguran pemuda;
Masih relatif rentan terhadap perilaku menyimpang di kalangan pemuda (narkoba, sex bebas, pornoaksi, pornografi, dll);
Adanya kecenderungan aktivitas pemuda lebih banyak di kota dari pada di desa;
Adanya kecenderungan munculnya perilaku kekerasan di sebagian kalangan pemuda;
Adanya kecenderungan sikap acuh tak acuh terhadap masalah moral dan akhlaq mulia di sebagian kalangan pemuda;
Adanya kecenderungan meredupnya nasionalisme di sebagian kalangan pemuda;
Masih terbatasnya prasarana dan sarana pembangunan kepemudaan;
Belum maksimalnya koordinasi 21 Kementerian dan Lembaga yang mempunyai program kepemudaan.
Namun disisi lain, tidak semua pemuda seperti itu. Masih ada pemuda Indonesia masa kini yang berprestasi di bidang pendidikan, olahraga, teknologi, perdamaian, seni, dan lain-lain. Sebut saja Taufik Hidayat atlet bulutangkis Indonesia yang telah menorehkan sejarah di tingkat dunia.
Jadi menurut hemat penulis, kenyataan pemuda saat ini adalah ada yang melupakan semangat Sumpah Pemuda. Ada pula yang tetap memegang teguh. Yang tetap setia kita dukung dan mencontohnya. Sementara yang lupa, kita ingatkan agar kembali ke semangat para pemuda dulu.
Jika pada masa dulu, kaum penjajah yang memecah belah bangsa Indonesia, bukan tidak mungkin persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina akan terkoyak oleh ulah bangsa sendiri. Bahasa Indonesia yang selama ini diakui sebagai bahasa persatuan rusak justru oleh perilaku bangsa sendiri. Kontras, dengan kondisi dan perjuangan pemuda zaman dulu yang demi persatuan dan kesatuan bangsa, mereka berani mengorbankan waktu, tenaga, biaya dan fikiran, bahkan jiwa sekalipun.
Akhirnya, mari teruslah kita jaga nasionalisme dalam hati kita, dan kita selalu pupuk, agar menghasilkan karya nyata, sehingga dapat memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa yang kita cintai ini, yaitu bangsa Indonesia. Selamat Hari Sumpah Pemuda, maju terus pemuda Indonesia, raihlah kejayaan bangsa dan negara.
3. Pemuda dan Pergerakannya
Pemuda Indonesia dengan gerakan kepemudaan merupakan martir untuk memperjuangkan hak dan cita-cita bangsa. Di tangan kaum mudalah harapan bangsa dapat terwujud. Bila berkaca pada sejarah, gerakan pemuda Indonesia ditandai oleh lahirnya organisasi modern yang disebut Boedi Oetomo pada tahun 1908. Kemudian diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 sebagai kesepakatan untuk menyatukan unsur-unsur heterogen pemuda menjadi bangsa yang satu.
Atas desakan para pemuda, akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Moment ini bertepatan dengan kekalahan Jepang (yang saat itu menjajah Indonesia) pada perang Dunia II. Tidak hanya sampai disitu, gerakan pemuda berlanjut pada tahun 1966. Kita semua tahu ditahun tersebut dikenal dengan masa revolusi, kaum muda terlibat secara langsung dan menolak ideologi komunis. Kemudian pada tahun 1974 terjadi gerakan pemuda sebagai reaksi dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang tidak transparan. Puncak gerakan pemuda dari berbagai unsur terjadi pada tahun 1998. Pemuda Indonesia menolak dengan tegas system pemerintahan otoriter dan menorehkan sejarah dengan menggulingkan rezim orde baru menjadi era reformasi.
Semua itu merupakan pengukuhan penting terhadap peran kaum muda dalam memperjuangkan idealism bangsa. Sejak era sebelum kemerdekaan, kaum muda selalu terdorong untuk melakukan penolakan terhadap ketidakadilan. Pada masa itu mereka diasah melalui kelompok diskusi atau organisasi kepemudaan dengan struktur dan mekanisme yang masih sangat sederhana.
Tapi sayang, setelah era reformasi pemuda terkesan ideologis, pragmatis bahkan materialistis. Aksi dan gerakannya kurang focus, tidak memiliki visi bersama, dan bahkan terkotak-kotak. Disebabkan tidak adanya arah yang jelas ataupun kepedulian terhadap nasib bangsa. Oleh sebab itu diperlukan pengenalan kembali fungsi dan peran pemuda dalam membangun bangsa, yang sebelumnya tidak pernah absen menorehkan tinta emas. Perjuangan pemuda pun bergulir sesuai konteks dan zamannya. Di masa lalu pemuda lebih mengedapankan semangat bela negara untuk lepas dari tangan penjajah. Namun seiring perjalanan waktu, perkembangan zaman, dan tuntutan hidup semangat tersebut berubah. Hal ini jelas terlihat melalui banyaknya pemuda yang memiliki sikap pragmatis dan apolitis. Memang tidak semua pemuda Indonesia memiliki jiwa yang lemah namun melihat keadaan saat ini, dikhawatirkan semangat 1928 hilang dari diri para pemuda Indonesia. Hal ini akan berakibat pada hilangnya jiwa nasionalisme yang berarti hilangnya kecintaan kepada bangsa dan negara.
4. Solusi dan Tantangan Pemuda Saat ini
Saat ini peran pemuda mendapat tantangan dari berbagai macam bentuk, pemuda saat ini di tantang dengan kondisi zaman yang semakin bebas dan tidak terkendali. Sehingga pengaruh lingkungan mampu mengarahkan pemuda ke arah yang tidak produktif. Globalisasi yang semakin bebas saat ini membuat para pemuda terbuai untuk menikmatinya kedalam aktivitas yang membuang-buang waktu. Contoh seperti bergaya seperti budaya barat, gemar bermain di club malam dan discotik, serta aktivitas lainnya. Selain itu, saat ini pemuda kebanyakan memiliki kemauan yang rendah untuk mendidik diri serta mengggali potensi diri yang ada. Pemuda juga belum memiliki sebuah visi dan kemauan yang kuat untuk berbuat kepada masyarakat dan bangsa. Banyak pemuda yang diberikan kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi, tapi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermafaat. Perguruan tinggi terkadang dimanfaatkan hanya untuk mendapat gelar sarjana.
Mengahadapi situasi dan kondisi yang melemahkan pergerakan pemuda saat ini, harus ada upaya dari para pemuda demi membuktika masih tersimpan adanya semangat Sumpah Pemuda. Tidaklah cukup hanya dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda pada ritual peringatan Sumpah Pemuda saja, atau perlu mengadakan Ikrar Sumpah Pemuda versi-versi selanjutnya. Jawaban yang pasti itu ada dalam diri masing-masing pemuda. Apa yang dapat diberikan pada Indonesia, memang tidak sama dan tentu berbeda dengan masa 1928-an. Bila pada masa itu para pemuda mempertaruhkan nyawa dan raga untuk meraih kemerdekaan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan, maka kita tidak perlu lagi melakukannya.
Saat ini yang dapat diberikan kepada bangsa adalah prestasi-prestasi membanggakan untuk semua rakyat Indonesia. Misalnya ikut berpartisipasi dalam perlombaan dalam kancah-kancah internasional seperti Olimpiade. Sebagai pemuda Indonesia kita harus bangga hidup di Indonesia dan harus tetap mempertahankan jiwa-jiwa nasionalisme dan cinta tanah air.
Beberapa kalangan menganggap pemuda saat ini bermental pragmatis. Ada pula yang menyebut makin terkikisnya spirit nasionalisme, anak muda cenderung cuek, apatis dan senang mencari jalan pintas (instan). Mereka saat ini dianggap lemah, kurang gigih dan kehilangan identitas diri. Belum lagi jika harus dirunut masalah lain seperti kasus tawuran, konflik,  pergaulan bebas, pengguna narkoba, lemahnya daya saing hingga angka pengangguran yang cukup besar.
Menurut penulis, kritikan diatas memang wajar, mengingat fakta yang ada saat ini. Kritikan itu itu diperlukan agar menjadi pemacu bagi kaum muda saat ini untuk bangkit. Berkaca pada sejarah, bandingkan dengan torehan tinta emas generasi tempo dulu. Dimana pemuda Indonesia berikrar dalam sebuah sumpah yang begitu mempesona.
Lantas pertanyaannya, dimana pemuda hari ini, disaat bangsa menghadapi kepungan masalah. Sebenarnya ada poin progresif dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan. Dalam konteks UU diatas, terdapat 3 isu strategis yang dapat dipahami dalam pembangunan pemuda yaitu program penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan pemuda. Penyadaran pemuda adalah kegiatan yang diarahkan untuk memahami dan menyikapi perkembangan dan perubahan lingkungan. Pemberdayaan pemuda adalah kegiatan membangkitkan potensi dan peran aktif pemuda. Sedangkan pengembangan pemuda diprioritas melalui pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan.
Memasuki abad dua puluh satu, kenyataan yang berkembang ditengah masyarakat, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Hal itu ditandai dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Suatu gejala yang disebut dengan arus globalisasi. Era globalisasi disadari mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan suatu bangsa, termasuk kemajuan pendidikan dikalangan pemuda. Tidak semua perkembangan itu memberikan hasil positif, namun juga berdampak negatif. Karena globalisasi juga membawa perubahan perilaku, terutama pada generasi muda (para remaja). Dunia remaja disibukkan dengan hal yang tidak menggembirakan.
Menyikapi polemik yang terjadi ditengah-tengah pemuda hari ini, ada beberapa hal yang perlu ditelaah dan dilakukan demi mengarahkan pemuda kepada pencapaian prestasi, dengan membentuk generasi masa depan. Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas dunia. Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.[18]
Perkembangan bangsa ke depan banyak ditentukan oleh peranan remaja/pemuda sebagai generasi penerus dan pewaris. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap:
daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin,
kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi,
tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
memahami nilai‑nilai budaya luhur,
siap bersaing dalam knowledge based society,
punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny,
individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,
motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.
Pemuda harus sadar bahwa masa depan bangsa dan kepemimpinan negara berada di tangannya. Karena asas Kepemimpinan adalah kesadaran dan kemauan. Sikap dan ciri pemimpin yang baik adalah:
Berilmu, berakhlak, berintegritas, professional, dan pandai
Dapat membuat keputusan dan bertangguing jawab atas keputusannya.
Dapat mempengaruhi bukan dipengaruhi dan mampu menjadi contoh
Bersedia mendengar masukan dan kritik
Bisa memberi semangat dan motivasi
Selain itu, pembentukan karekter pemuda juga akan member dampak positif dalam perkembaganannya, dalam bentuk:
Masa depan sebuah bangsa ditentukan karakter pemuda. Sangat jelas dalam ingatan dan sangat dalam tertanam dalam jiwa bahwa pemuda harapan bangsa. Karena ungkapan itu disampaikan berulang ulang dari dulu sampai sekarang. Apalagi kesadaran itu juga diperkuat dengan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa momentum momentum penting pergerakan sejarah bangsa tidak lepas dari peran pemuda yang sangat signifikan, mulai dari kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan, orde baru, sampai orde reformasi..
Beberapa fakta menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak selalu ditentukan usia bangsa, sumber daya alamnya, atau rasnya. Kita tentu bisa melihat Australia yang usianya jauh lebih muda dari Yunani, tetapi soal kemajuan bangsa jelas Australia jauh lebih unggul.
Kita juga bisa melihat Indonesia, negeri kita tercinta, yang jauh lebih kaya sumber daya alamnya daripada jepang, tetapi bicara tentang kemajuan, kita jelas ketinggalan.
Bukti tentang ras ditunjukkan dengan sangat jelas, dengan mulai melesatnya bangsa bangsa asia, seperti India dan cina yang telah melampaui kemajuan negara negara sebagian eropa. Tentu saja kemajuan bangsa dalam hal ini ditandai dengan kemajuan ekonomi, teknologi, pendidikan dan kesehatan.
Pendidikan khususnya olah raga memiliki peluang yang sangat memungkinkan untuk membantuk karakter generasi bangsa. Selain membentuk dan membina sisi jasmaniah, olah raga merupakan media efektif untuk membina karakter. Menurut teori Piaget, aktivitas jasmani sendiri termasuk gerak di dalamnya merupakan akar dari pertumbuhan proses dan struktur psikologis. Satu-satunya kondisi yang menyebabkan kejahatan dan hal-hal buruk merajalela adalah ketika orang baik-baik tidak melakukan apa-apa.
Jadi, penulis menyimpulkan bahwa semestinya kaum muda harus berani bersikap merombak watak budaya politik yang menjadikan kekuasaan dan uang sebagai tujuan. Pemuda juga harus memperkuat komitmen penegakan hukum dan memfungsikan partai politik dan badan legislatif sebagai arena perjuangan kepentingan rakyat. Selanjutnya pemuda juga harus membantu dan mendorong birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan. Upaya generasi muda juga dilandasi dengan ilmu pengetahuan dan sikap atau kepribadian yang baik dan diiringi peran serta dukungan pemerintah.
Pemuda dari Masa ke Masa
1. Meneropong Pemuda Masa Lalu
Boedi Oetomo sebagai organisasi yang lahir pada tahun 1908 mengawali kebangkitan Bangsa Indonesia (Kebangkitan Nasional). Mereka hadir sebagai pemuda-pemudi yang siap berada digarda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Delapan puluh tiga tahun silam, pemuda-pemudi Indonesia, putra-putri terbaik bangsa saat itu telah menghasilkan tiga sumpah (janji) penting yang sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia kearah yang lebih baik yaitu meraih kemerdekaan. Sumpah tersebut dihasilkan dalam peristiwa Kongres Pemuda ke-2, di Jakarta, tepatnya di Jalan Kramat Raya no.106, yang sekarang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928. Adapun bunyi Sumpah Pemuda tersebut adalah sebagai berikut:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia
Ketiga butir sumpah tersebut merupakan hasil kesepakatan dan keputusan Kongres Pemuda ke-2, yang masih dalam suasana kolonialisme Hindia Belanda. Namun dengan tekad dan semangat tinggi, mereka berkumpul dan bersatu dalam rangka perubahan nasib bangsa Indonesia, sekalipun mereka berasal dari berbagai pelosok wilayah Indonesia yang satu sama lainnya terpisah dengan jarak yang sangat jauh, lebih lagi dengan sulitnya transportasi kala itu
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para pemuda tidak lagi berjuang sendiri, melainkan bersama-sama. Perlu kita ketahui, Sumpah Pemuda tidak lahir begitu saja. Banyak hal yang melandasi para pemuda bertekad untuk bersatu. Mereka berpikir tidak akan bisa membuat Indonesia merdeka jika berjuang di kelompok sendiri.
Kegagalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia membuat mereka sadar bahwa rasa nasionalisme harus dipadukan. Karena itu, diadakanlah Kongres Pemuda I dan II. Mereka menjadi satu, menjadi “Pemuda Indonesia”. Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti pemuda masa kini. Yaitu, dengan mengisi kemerdekaan. Istilah pemuda atau generasi muda umumnya dipakai sebagai konsep untuk memberi generalisasi golongan masyarakat yang berada pada usia paling dinamis, yang membedakan dari kelompok umur anak-anak dan golongan tua. Sementara secara kultural, pemuda adalah produk sistem nilai yang mengalami proses pembentukan kesadaran dan pematangan identitas dirinya sebagai aktor penting perubahan.
Sejarah kemerdekaan Indonesia telah membuktikannya, perjuangan pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan adalah berkat perjuangan kaum muda pada saat itu. Kilas balik sejarah, penulis sedikit mengutip percakapan antara Soekarno-Hatta dan pemuda Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada masa itu yang juga menimbulkan pro dan kontra antara organisasai pemuda yang diketuai oleh Chaerul Saleh dan kelompok tua diketuai oleh Bung Karno. Tanggal 15 Agustus 1945 dengan kepala panas kelompok muda menentang Soekarno dan mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan indoesia, namun kelompok tua menolak karena beranggapan bahwa jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Negara Indonesia, ”Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata pemuda Chaerul Saleh demi meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ”Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan;  ”Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”
Soekarno langsung ikut naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: ”Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu ?”
Namun, para pemuda terus mendesak, ”Apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. ” Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memproklamasikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?”.
Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata, “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya ? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “.
Bila menghayati lebih dalam kutipan percakapan di atas, harus diakui bahwa salah satu pionir yang paling berperan dalam tatanan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara adalah pemuda. Pemuda merupakan sekelompok orang yang masih terbilang muda serta memiliki potensi yang beragam. Keberadaannya, tentunya sangat diharapkan lahirnya potensi-potensi yang berguna bagi bangsa dan negara. Generasi yang bisa dikatakan sebagai kelompok yang paling memiliki semangat tinggi, semangat menyala-nyala yang terkadang meluap-luap.
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1966 memang berhasil digagalkan angkatan bersenjata, namun tanpa peran pemuda dan ormas lainnya keberhasilan ini tentu tidak akan berjalan lancar. Tahun inilah awal berdirinya pemerintahan orde baru dibawah kekuasaan Soeharto. Pemerintahan Soeharto memang menunjukkan perkembangan bagi bangsa Indonesia. Kemakmuran rakyat meningkat, kesejahteraan mulai tampak. Namun kekuasan Soeharto ternyata lebih mengedepankan asas kekeluargaan, pemerintahan orde baru-pun disebut-sebut sebagai pemerintahan rapuh dan kropos akhirnya jatuh disaat krisis moneter melanda Indonesia.
Pemuda kembali unjuk gigi, 32 tahun rezim orde baru berkuasa berhasil diakhiri. Bersatunya pemuda dan mahasiswa meminta Soeharto mundur terwujud, dan masa otoriter berakhir kemudian beralih ke masa reformasi. Tahun 1998, awal mula berjalannya era reformasi. Era ini dianggap sebagai zaman kebebasan bagi rakyat.
2. Pemuda Indonesia Hari Ini
Betapa pentingnya peran pemuda dalam bagi suatu bangsa. Sebab itulah, pemuda pada dasarnya harus ada dan mutlak adanya. Sebab pemuda sebenarnya merupakan sosok yang paling memiliki power untuk mengarungi sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara ke depan. Pemuda jualah yang menjadi harapan untuk mengkritik setiap-setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan memberikan solusi yang cerdas untuk mengatasi permasalahan. Pemuda dapat dikatakan sebagai generasi pelanjut dan pelurus.
Namun ini, dimana semangat para pemuda itu? Para pemuda sekarang mayoritas hanya diam, peduli pada nasib masing-masing. Jiwa nasionalis dan sosial seakan memudar. Kalaupun ada yang peduli pada nasib bangsa ini, jumlahnya tidak lebih besar dari yang apatis.
Rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga dengan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda. Jangan sampai kerja keras para pemuda pada masa perjuangan dahulu terbuang percuma dengan kondisi Bangsa Indonesia di masa sekarang. Sumpah Pemuda yang disebut-sebut menjadi adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Seperti kita telah ketahui, ada tiga butir penting Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi negara kita. Bagaimana semangat pemuda dulu? Bagaimana pula kenyataan pemuda pada masa kini?
Tetapi kini, terkadang kita dibuat sedih dengan kenyataan para pemuda Indonesia saat ini. Semangat mengisi kemerdekaan mereka sangat kecil, bahkan kadang malah merusak. Hanya karena sedikit salah paham, para pemuda sekarang bisa tawuran. Tawuran antar pemuda tidak mengenal lokasi dan tingkat kedewasaan. Pemuda desa yang satu rusuh dengan pemuda kampung yang lain. Ada juga tawuran antar sekolah dan antar universitas. Bahkan siswa Sekolah Dasar (SD) mulai menirukan para kakak-kakak mereka tersebut. Mereka menghancurkan semangat Sumpah Pemuda.
Masalah beberapa pemuda masa kini, bukan hanya emosi yang tak terkendali. Mereka juga bermental egois dan asyik dengan diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan. Mereka menjerumuskan diri ke dalam narkoba, hura-hura, pesta-pora, hingga seks bebas.
Penulis menyimpulkan, pemuda saat ini terlalu terlena dengan kemudahan-kemudahan yang ada. Untungnya, tidak semua pemuda zaman sekarang seperti mereka, yang menghancurkan diri dan bangsanya. Masih banyak generasi penerus bangsa yang masih peduli dengan lingkungan dan menjunjung tinggi semangat Sumpah Pemuda. Ada beberapa indikasi sebagai penyebab masalah dikalangan pemuda hari ini:
Masih relatif rendahnya tingkat pendidikan pemuda;
Masih relatif tingginya tingkat pengangguran pemuda;
Masih relatif rentan terhadap perilaku menyimpang di kalangan pemuda (narkoba, sex bebas, pornoaksi, pornografi, dll);
Adanya kecenderungan aktivitas pemuda lebih banyak di kota dari pada di desa;
Adanya kecenderungan munculnya perilaku kekerasan di sebagian kalangan pemuda;
Adanya kecenderungan sikap acuh tak acuh terhadap masalah moral dan akhlaq mulia di sebagian kalangan pemuda;
Adanya kecenderungan meredupnya nasionalisme di sebagian kalangan pemuda;
Masih terbatasnya prasarana dan sarana pembangunan kepemudaan;
Belum maksimalnya koordinasi 21 Kementerian dan Lembaga yang mempunyai program kepemudaan.
Namun disisi lain, tidak semua pemuda seperti itu. Masih ada pemuda Indonesia masa kini yang berprestasi di bidang pendidikan, olahraga, teknologi, perdamaian, seni, dan lain-lain. Sebut saja Taufik Hidayat atlet bulutangkis Indonesia yang telah menorehkan sejarah di tingkat dunia.
Jadi menurut hemat penulis, kenyataan pemuda saat ini adalah ada yang melupakan semangat Sumpah Pemuda. Ada pula yang tetap memegang teguh. Yang tetap setia kita dukung dan mencontohnya. Sementara yang lupa, kita ingatkan agar kembali ke semangat para pemuda dulu.
Jika pada masa dulu, kaum penjajah yang memecah belah bangsa Indonesia, bukan tidak mungkin persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina akan terkoyak oleh ulah bangsa sendiri. Bahasa Indonesia yang selama ini diakui sebagai bahasa persatuan rusak justru oleh perilaku bangsa sendiri. Kontras, dengan kondisi dan perjuangan pemuda zaman dulu yang demi persatuan dan kesatuan bangsa, mereka berani mengorbankan waktu, tenaga, biaya dan fikiran, bahkan jiwa sekalipun.
Akhirnya, mari teruslah kita jaga nasionalisme dalam hati kita, dan kita selalu pupuk, agar menghasilkan karya nyata, sehingga dapat memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa yang kita cintai ini, yaitu bangsa Indonesia. Selamat Hari Sumpah Pemuda, maju terus pemuda Indonesia, raihlah kejayaan bangsa dan negara.
3. Pemuda dan Pergerakannya
Pemuda Indonesia dengan gerakan kepemudaan merupakan martir untuk memperjuangkan hak dan cita-cita bangsa. Di tangan kaum mudalah harapan bangsa dapat terwujud. Bila berkaca pada sejarah, gerakan pemuda Indonesia ditandai oleh lahirnya organisasi modern yang disebut Boedi Oetomo pada tahun 1908. Kemudian diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 sebagai kesepakatan untuk menyatukan unsur-unsur heterogen pemuda menjadi bangsa yang satu.
Atas desakan para pemuda, akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Moment ini bertepatan dengan kekalahan Jepang (yang saat itu menjajah Indonesia) pada perang Dunia II. Tidak hanya sampai disitu, gerakan pemuda berlanjut pada tahun 1966. Kita semua tahu ditahun tersebut dikenal dengan masa revolusi, kaum muda terlibat secara langsung dan menolak ideologi komunis. Kemudian pada tahun 1974 terjadi gerakan pemuda sebagai reaksi dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang tidak transparan. Puncak gerakan pemuda dari berbagai unsur terjadi pada tahun 1998. Pemuda Indonesia menolak dengan tegas system pemerintahan otoriter dan menorehkan sejarah dengan menggulingkan rezim orde baru menjadi era reformasi.
Semua itu merupakan pengukuhan penting terhadap peran kaum muda dalam memperjuangkan idealism bangsa. Sejak era sebelum kemerdekaan, kaum muda selalu terdorong untuk melakukan penolakan terhadap ketidakadilan. Pada masa itu mereka diasah melalui kelompok diskusi atau organisasi kepemudaan dengan struktur dan mekanisme yang masih sangat sederhana.
Tapi sayang, setelah era reformasi pemuda terkesan ideologis, pragmatis bahkan materialistis. Aksi dan gerakannya kurang focus, tidak memiliki visi bersama, dan bahkan terkotak-kotak. Disebabkan tidak adanya arah yang jelas ataupun kepedulian terhadap nasib bangsa. Oleh sebab itu diperlukan pengenalan kembali fungsi dan peran pemuda dalam membangun bangsa, yang sebelumnya tidak pernah absen menorehkan tinta emas. Perjuangan pemuda pun bergulir sesuai konteks dan zamannya. Di masa lalu pemuda lebih mengedapankan semangat bela negara untuk lepas dari tangan penjajah. Namun seiring perjalanan waktu, perkembangan zaman, dan tuntutan hidup semangat tersebut berubah. Hal ini jelas terlihat melalui banyaknya pemuda yang memiliki sikap pragmatis dan apolitis. Memang tidak semua pemuda Indonesia memiliki jiwa yang lemah namun melihat keadaan saat ini, dikhawatirkan semangat 1928 hilang dari diri para pemuda Indonesia. Hal ini akan berakibat pada hilangnya jiwa nasionalisme yang berarti hilangnya kecintaan kepada bangsa dan negara.
4. Solusi dan Tantangan Pemuda Saat ini
Saat ini peran pemuda mendapat tantangan dari berbagai macam bentuk, pemuda saat ini di tantang dengan kondisi zaman yang semakin bebas dan tidak terkendali. Sehingga pengaruh lingkungan mampu mengarahkan pemuda ke arah yang tidak produktif. Globalisasi yang semakin bebas saat ini membuat para pemuda terbuai untuk menikmatinya kedalam aktivitas yang membuang-buang waktu. Contoh seperti bergaya seperti budaya barat, gemar bermain di club malam dan discotik, serta aktivitas lainnya. Selain itu, saat ini pemuda kebanyakan memiliki kemauan yang rendah untuk mendidik diri serta mengggali potensi diri yang ada. Pemuda juga belum memiliki sebuah visi dan kemauan yang kuat untuk berbuat kepada masyarakat dan bangsa. Banyak pemuda yang diberikan kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi, tapi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermafaat. Perguruan tinggi terkadang dimanfaatkan hanya untuk mendapat gelar sarjana.
Mengahadapi situasi dan kondisi yang melemahkan pergerakan pemuda saat ini, harus ada upaya dari para pemuda demi membuktika masih tersimpan adanya semangat Sumpah Pemuda. Tidaklah cukup hanya dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda pada ritual peringatan Sumpah Pemuda saja, atau perlu mengadakan Ikrar Sumpah Pemuda versi-versi selanjutnya. Jawaban yang pasti itu ada dalam diri masing-masing pemuda. Apa yang dapat diberikan pada Indonesia, memang tidak sama dan tentu berbeda dengan masa 1928-an. Bila pada masa itu para pemuda mempertaruhkan nyawa dan raga untuk meraih kemerdekaan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan, maka kita tidak perlu lagi melakukannya.
Saat ini yang dapat diberikan kepada bangsa adalah prestasi-prestasi membanggakan untuk semua rakyat Indonesia. Misalnya ikut berpartisipasi dalam perlombaan dalam kancah-kancah internasional seperti Olimpiade. Sebagai pemuda Indonesia kita harus bangga hidup di Indonesia dan harus tetap mempertahankan jiwa-jiwa nasionalisme dan cinta tanah air.
Beberapa kalangan menganggap pemuda saat ini bermental pragmatis. Ada pula yang menyebut makin terkikisnya spirit nasionalisme, anak muda cenderung cuek, apatis dan senang mencari jalan pintas (instan). Mereka saat ini dianggap lemah, kurang gigih dan kehilangan identitas diri. Belum lagi jika harus dirunut masalah lain seperti kasus tawuran, konflik,  pergaulan bebas, pengguna narkoba, lemahnya daya saing hingga angka pengangguran yang cukup besar.
Menurut penulis, kritikan diatas memang wajar, mengingat fakta yang ada saat ini. Kritikan itu itu diperlukan agar menjadi pemacu bagi kaum muda saat ini untuk bangkit. Berkaca pada sejarah, bandingkan dengan torehan tinta emas generasi tempo dulu. Dimana pemuda Indonesia berikrar dalam sebuah sumpah yang begitu mempesona.
Lantas pertanyaannya, dimana pemuda hari ini, disaat bangsa menghadapi kepungan masalah. Sebenarnya ada poin progresif dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan. Dalam konteks UU diatas, terdapat 3 isu strategis yang dapat dipahami dalam pembangunan pemuda yaitu program penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan pemuda. Penyadaran pemuda adalah kegiatan yang diarahkan untuk memahami dan menyikapi perkembangan dan perubahan lingkungan. Pemberdayaan pemuda adalah kegiatan membangkitkan potensi dan peran aktif pemuda. Sedangkan pengembangan pemuda diprioritas melalui pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan.
Memasuki abad dua puluh satu, kenyataan yang berkembang ditengah masyarakat, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Hal itu ditandai dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Suatu gejala yang disebut dengan arus globalisasi. Era globalisasi disadari mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan suatu bangsa, termasuk kemajuan pendidikan dikalangan pemuda. Tidak semua perkembangan itu memberikan hasil positif, namun juga berdampak negatif. Karena globalisasi juga membawa perubahan perilaku, terutama pada generasi muda (para remaja). Dunia remaja disibukkan dengan hal yang tidak menggembirakan.
Menyikapi polemik yang terjadi ditengah-tengah pemuda hari ini, ada beberapa hal yang perlu ditelaah dan dilakukan demi mengarahkan pemuda kepada pencapaian prestasi, dengan membentuk generasi masa depan. Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas dunia. Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.[18]
Perkembangan bangsa ke depan banyak ditentukan oleh peranan remaja/pemuda sebagai generasi penerus dan pewaris. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap:
daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin,
kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi,
tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
memahami nilai‑nilai budaya luhur,
siap bersaing dalam knowledge based society,
punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny,
individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,
motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.
Pemuda harus sadar bahwa masa depan bangsa dan kepemimpinan negara berada di tangannya. Karena asas Kepemimpinan adalah kesadaran dan kemauan. Sikap dan ciri pemimpin yang baik adalah:
Berilmu, berakhlak, berintegritas, professional, dan pandai
Dapat membuat keputusan dan bertangguing jawab atas keputusannya.
Dapat mempengaruhi bukan dipengaruhi dan mampu menjadi contoh
Bersedia mendengar masukan dan kritik
Bisa memberi semangat dan motivasi
Selain itu, pembentukan karekter pemuda juga akan member dampak positif dalam perkembaganannya, dalam bentuk:
Masa depan sebuah bangsa ditentukan karakter pemuda. Sangat jelas dalam ingatan dan sangat dalam tertanam dalam jiwa bahwa pemuda harapan bangsa. Karena ungkapan itu disampaikan berulang ulang dari dulu sampai sekarang. Apalagi kesadaran itu juga diperkuat dengan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa momentum momentum penting pergerakan sejarah bangsa tidak lepas dari peran pemuda yang sangat signifikan, mulai dari kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan, orde baru, sampai orde reformasi..
Beberapa fakta menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak selalu ditentukan usia bangsa, sumber daya alamnya, atau rasnya. Kita tentu bisa melihat Australia yang usianya jauh lebih muda dari Yunani, tetapi soal kemajuan bangsa jelas Australia jauh lebih unggul.
Kita juga bisa melihat Indonesia, negeri kita tercinta, yang jauh lebih kaya sumber daya alamnya daripada jepang, tetapi bicara tentang kemajuan, kita jelas ketinggalan.
Bukti tentang ras ditunjukkan dengan sangat jelas, dengan mulai melesatnya bangsa bangsa asia, seperti India dan cina yang telah melampaui kemajuan negara negara sebagian eropa. Tentu saja kemajuan bangsa dalam hal ini ditandai dengan kemajuan ekonomi, teknologi, pendidikan dan kesehatan.
Pendidikan khususnya olah raga memiliki peluang yang sangat memungkinkan untuk membantuk karakter generasi bangsa. Selain membentuk dan membina sisi jasmaniah, olah raga merupakan media efektif untuk membina karakter. Menurut teori Piaget, aktivitas jasmani sendiri termasuk gerak di dalamnya merupakan akar dari pertumbuhan proses dan struktur psikologis. Satu-satunya kondisi yang menyebabkan kejahatan dan hal-hal buruk merajalela adalah ketika orang baik-baik tidak melakukan apa-apa.
Jadi, penulis menyimpulkan bahwa semestinya kaum muda harus berani bersikap merombak watak budaya politik yang menjadikan kekuasaan dan uang sebagai tujuan. Pemuda juga harus memperkuat komitmen penegakan hukum dan memfungsikan partai politik dan badan legislatif sebagai arena perjuangan kepentingan rakyat. Selanjutnya pemuda juga harus membantu dan mendorong birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan. Upaya generasi muda juga dilandasi dengan ilmu pengetahuan dan sikap atau kepribadian yang baik dan diiringi peran serta dukungan pemerintah.
Sumber: muhammadhandy.blogspot.com / google.com / smpn1gegerbitung.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Read more: http://aikonmedia.blogspot.com/2013/09/cara-memasang-tombol-back-to-top-di-blog.html#ixzz2hxSjHi30 Follow us: @baguztguzt on Twitter | baguzt.guzt on Facebook